Label

Tampilkan postingan dengan label Food. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Food. Tampilkan semua postingan

CARA MENANAK NASI YANG BENAR


Memasak Nasi Dengan Teknik Aron-Kukus

Lihat peralatanku, aduhai betapa tradisionalnya dia (panci ini tidak bersalah, maafkan daku yang telah membuatnya gosong). Mungkin hanya faktor selera, tapi teknik memasak nasi dengan mengaron dan mengukus alias tanak ini yang paling saya sukai.


Pertama, siapkan beras, buang gabahnya dan bersihkan kotorannya dengan menggunakan tampah;
Ke dua, jerangkan air di panci untuk mengaron sebanyak takaran berasnya. Ingat ya, untuk memasak nasi dengan teknik ini takaran airnya 1:1, satu mangkuk beras berbanding satu mangkuk air (mangkuk yang sama);
Ke tiga, cuci beras (ada juga yang kemudian merendam berasnya);
Ke empat, masukkan beras ke dalam air mendidih, tunggu mendidih kembali, aduk, kemudian matikan saja apinya sebelum airnya surut, jangan khawatir nanti airnya akan menyerap sendiri ke dalam aronannya;
Ke lima, sambil menunggu air aronan menyerap, jerangkan air pada dandang untuk mengukus nasinya;
Ke enam, masukkan nasi aron ke dalam dandang, saya menggunakan besek bambu dengan tujuan agar lebih mudah mengangkatnya saat sudah matang.
Jika sudah tanak, angkat nasi dan dinginkan agar tidak cepat basi karena uapnya. Jangan gunakan teknik angkat balik dalam mendinginkan nasi agar bulir nasi tidak lengket satu sama lain, sisir miring saja nasinya dengan spatula.

LEBIH SEHAT DENGAN MEMBAWA BEKAL


Kisah Antara Saya dan Bekal Makan Siang

Anda sering atau selalu membawa bekal atau membuatkan bekal untuk anak ke sekolah dan suami ke tempat kerja? Apa yang biasa anda buat? Menu bekal praktis??? Masihkah??? Coba pikirkan kembali hal ini baik-baik, tubuh kita itu butuh gizi yang seimbang lho. Masak saja seperti biasa dan jangan malu-malu dibawa sebagai bekal, nggak usah pilih-pilih menu khusus untuk bekal. Ribet bawanya??? Enggak kok, itu hanya permasalahan perbedaan pandangan saja, kalau sudah mengerti dan merasa butuh pasti anda akan berubah pikiran.

O ya, ngomong-ngomong tempat bekal seperti apa yang anda gunakan? Ini juga akan mempengaruhi menu apa-apa saja yang bisa dibawa. Saya juga menyukai sesuatu yang praktis, tapi apakah hanya karena tempat bekal yang dibuat super simpel dan praktis itu membuat menu yang bisa dibawa hanya mie goreng, nugget, roti, sosis, kornet, nasi goreng, itu lagi itu lagi, seperti anak kecil saja. Ayo yang ngaku dirinya udah gede, berarti udah nggak pantes donk milih-milih makanan, menyisakan makanan di piring, dan harus disuapin sambil lari-lari (itu sih ponakan saya banget, hahaha).

Memilih tempat bekal memang harus sesuai peruntukan jenis menunya. Sulit jika hanya mempunyai satu macam saja, namun menurut pengalaman saya tiga jenis tempat bekal berbeda sudah cukup. Secara garis besar makanan dibedakan dengan yang basahan dan keringan, namun tempat bekal juga harus ada penyesuaian terhadap bentuk dan ukuran makanan, oleh karena itu bukan perlu banyak tempat, hanya saja pikirkan baik-baik apa yang anda butuhkan sebelum membeli tempat bekal. Membawa bekal adalah untuk memudahkan anda, bukan menyultikan dan menjadi beban. Memilih tempat bekal yang tepat membuat anda senang membawanya.

Salah satu tempat bekal saya terdiri dari empat buah smart saver dari Tupperware ukuran diameter 11 cm, tinggi 5 cm, dan kapasitas 200 ml. Dan satu buah gelas kapasitas 200 ml. Saya masukkan ke tempat kecil, dan tidak banyak yang menyangka kalau itu adalah bekal (ya iyalah, wong itu aslinya tempat alat tulis kok, hehehe), bisa dimasukkan juga ke dalam tas.


Memang betul kecil kalo dipikir-pikir, tapi saya kenyang kok, justru saya mengambil keuntungan dengan itu bahwa saya bisa mengurangi jumlah nasi dan harus kenyang dengan sayuran atau buah yang saya bawa. Empat tempat bekal dan satu gelas itu saya isi sebagai berikut:
Satu, diisi nasi donk, atau semacam lontong atau ketupat iris;
Dua, diisi sayur, tumis sayuran, atau lauk nasi yang utama lainnya;
Tiga, diisi makanan pelengkap seperti tempe, tahu, sambal, kukusan sayuran atau lalapan, atau yang lainnya;
Empat, diisi camilan, kue, keripik, buah-buahan iris, agar atau jeli, olahan ubi atau singkong, bubur kacang ijo, roti, atau yang lainnya;
Gelas, diisi kopi, jus, air jahe, susu, teh manis, sirup, overnight oat, atau yang lainnya (yang pasti bukan air putih).

Saya belum bisa memasak dengan benar, tapi untuk bekal menurut saya kuncinya adalah bagaimana caranya agar masakannya enak dimakan saat sudah dingin, itu saja. Dan berikut ini bolehlah saya bagi sedikit menu barangkali bisa menginspirasi anda yang sedang kebingungan mau masak apa hari ini, esok, dan seterusnya:
Suun taoge kornet timun;
Tumis buncis jagung teri;
Ikan goreng kunyit;
Orak arik telur sayuran;
Jamur tumis telur;
Omelet wortel, buncis, tomat;
Bakso goreng saus;
Capcay;
Telur ceplok balado;
Tumis bakso buncis;
Teri pedas;
Ayam kukus;
Cumi asin;
Tumis kacang merah;
Tumis sapi lada;
Ayam saus tiram;
Tumis tahu cabai hijau;
Tumis bayam jagung;
Sup jagung ayam;
Sayur asem;
Sayur lodeh;
Dan lain-lain.

CARA MEMBUAT PEMPEK YANG EMPUK LEBIH LAMA


Membuat Pempek yang Empuk Dengan Teknik Biang


Tangzhong atau water roux alias teknik biang, anda pernah mendengarnya? Jika anda sering membaca resep membuat roti pasti anda akan mengerti. Tapi ini kan mau membuat pempek??? Iya, cara ini memang terinspirasi dari teknik pembuatan roti.

Merasa putus asa karena selama ini pempek yang saya buat selalu keras dan sangat cepat alot saat dingin. Jika adonan terlalu lembek nanti susah dibentuk, jika terlalu kering mudah dibentuk tapi akan terlalu keras dimakannya (ahhhh… apa-apaan ini). Entah bagaimana cara yang benar dalam membuat pempek seperti yang para penjual lakukan, di sini saya pakai cara hasil percobaan saya saja alias versi saya.

Pembahasan akan lebih kepada tekstur pempek, bukan membahas resep pempek yang enak, karena bumbu dan selera sangatlah relatif. Banyak jalan menuju Roma, dan banyak pula jalan untuk membuat pempek, biarlah saya memilih jalan ini. Setelah menggunakan teknik biang, pempek yang dihasilkan bisa tetap lembut dalam waktu yang lebih lama. Semoga bermanfaat ya, saya berusaha untuk memberikan bahan dan takaran yang mudah. Inilah tahapan-tahapan amatir yang saya lakukan semau-mau saya:

Pertama, buat biangnya dengan mencampur rata segelas tepung terigu dengan dua gelas (yang sama) air  dan garam secukupnya di atas saucepan atau panci kecil. Setelah rata, nyalakan api dan terus aduk bahan sampai meletup-letup dan mengental, kemudian matikan api, dinginkan. Boleh langsung dipakai atau disimpan di kulkas untuk dibuat esok harinya. Tentunya biang yang langsung dipakai dan yang sudah didinginkan akan berbeda hasilnya, silahkan anda temukan perbedaannya sendiri;

Ke dua, campur biang terigu yang sudah dingin dengan sebutir telur dan bumbu tambahan (ini opsional), aduk sampai merata dan lembut. Kemudian masukkan dua gelas (yang sama) aci (entah mau pakai tapioka atau sagu). Aduk rata namun jangan terlalu bersemangat ya. Karena jika terlalu bersemangat mengaduknya nanti akan lengket lagi, dan akan terus seperti itu. Setelah tekstur dirasa cukup untuk bisa dibentuk bisa dilanjutkan dengan membentuk adonan;


Ke tiga, sambil menunggu selesai membentuk adonan, jerangkan air pada wadah besar, jika terlanjur kurang asin adonannya bisa garami airnya pada proses ini;

Ke empat, masukkan adonan pempek yang telah dibentuk ke dalam air mendidih, tunggu sampai naik dan bening warnanya, baru boleh diangkat dan tiriskan.


Setelah dingin pempek dos siap digoreng atau disimpan di wadah tertutup. Jika disimpan di dalam kulkas harus dibiarkan suhu ruang dahulu sebelum digoreng supaya tidak gosong kecoklatan hasilnya. Begitulah.

MEMBUAT JELI COKELAT DENGAN BAHAN YANG MUDAH DIDAPAT


Membuat Jeli Cokelat yang Lembut Dengan Bahan Seadanya

Coba buka pantry anda, ada apa disana? Hanya ada stok gula dan susu disana. Eh, tunggu sebentar, ternyata ada sebungkus kecil Nutrijel rasa cokelat yang nyelip. Atau jika tidakpun anda bisa mendapatkan bahan-bahannya di warung sebelah rumah. Yang gampang-gampang sajalah, kita kan bukan seorang expert. Siapkan sebungkus kecil Nutrijel cokelat (maaf menyebut merk), satu sachet susu kental manis bendera cokelat (atau putih), lima sendok makan gula pasir, sejumput garam, dan tiga gelas air. Waahhhh… mari kita buat yang dingin-dingin.

Sebelumnya saya pernah memakai satu sachet susu bubuk Dancow cokelat, rasanya memang gurih dan wangi, hanya saja saya menemukan cita rasa tepung pada jelinya, saya pikir agak aneh saja, walaupun itu memang enak. Dan akhirnya saya menemukan susu kental manis lebih pas untuk si jeli ini dibandingkan dengan susu bubuk.

Mengenai takaran air tertera pada kemasan dibutuhkan 400 ml, tapi saya suka untuk melebihkan airnya supaya jelinya lebih lembut walaupun memang sudah pasti akan lembut karena susunya. Namun diusahakan jangan berlebihan juga, karena jeli akan berair saat disajikan. Tekstur jeli yang kenyal (rasa buah) hanya saya buat jika akan diiris untuk disajikan bersama air sirup dan biji selasih.

Berikut ini cuplikan gambarnya saat saya membuat si jeli-jeli-dut (aaaahhhh… si panci ini… dia memang saya pakai untuk segala, hanya dia yang saya punya):


Caranya masukkan semua bahan ke saucepan atau panci kecil dan campur dengan rata, jangan sampai ada yang menggumpal. Nyalakan api dan tunggu sampai mendidih sambil terus diaduk. Setelah itu tuang ke cetakan kemudian dinginkan di kulkas, dan siap disantap.